Barang siapa muncul di atas masyarakatnya, dia akan selalu menerima tuntutan dari masyarakat-masyarakat yang menaikkannya atau membiarkan naik. Pohon tinggi selalu akan mendapatkan banyak angin, kalau tuan segan menerima banyak angin jangan jadi pohon tinggi (Pramoedya Ananta Toer : Anak Semua Bangsa)
Arti Kekuasaan
Definisi ‘kekuasaan’
Indonesian to English : power
Indonesian to Indonesian : noun
- kuasa (untuk mengurus, memerintah, dsb): dia telah menggunakan ~ nya secara sewenang-wenang;
- kemampuan; kesanggupan: tiada ~ selain ~ Allah untuk menciptakan dunia;
- daerah (tempat dsb) yg dikuasai: bekas raja itu tidak mau pergi dr daerah bekas ~ nya meskipun sudah kalah perang;
- kemampuan orang atau golongan untuk menguasai orang atau golongan lain berdasarkan kewibawaan, wewenang, karisma, atau kekuatan fisik;
- Huk fungsi menciptakan dan memantapkan kedamaian (keadilan) serta mencegah dan menindak ketidakdamaian atau ketidakadilan;
Arti Politik
Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Politik adalah proses pembentukan dan pembagian kekuasaan dalam masyarakat yang antara lain berwujud proses pembuatan keputusan, khususnya dalam negara.[1] Pengertian ini merupakan upaya penggabungan antara berbagai definisi yang berbeda mengenai hakikat politik yang dikenal dalam ilmu politik.
Politik adalah seni dan ilmu untuk meraih kekuasaan secara konstitusional maupun nonkonstitusional.
Di samping itu politik juga dapat ditilik dari sudut pandang berbeda, yaitu antara lain:
- politik adalah usaha yang ditempuh warga negara untuk mewujudkan kebaikan bersama (teori klasik Aristoteles)
- politik adalah hal yang berkaitan dengan penyelenggaraan pemerintahan dan negara
- politik merupakan kegiatan yang diarahkan untuk mendapatkan dan mempertahankan kekuasaan di masyarakat
- politik adalah segala sesuatu tentang proses perumusan dan pelaksanaan kebijakan publik.
Arti Partai Politik
Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Sebuah partai politik adalah organisasi politik yang menjalani ideologi tertentu atau dibentuk dengan tujuan khusus. Definisi lainnya adalah kelompok yang terorganisir yang anggota-anggotanya mempunyai orientasi, nilai-nilai, dan cita-cita yang sama. Tujuan kelompok ini ialah untuk memperoleh kekuasaan politik dan merebut kedudukan politik – (biasanya) dengan cara konstitusionil – untuk melaksanakan kebijakan-kebijakan mereka. [1][2]
Partai politik adalah sarana politik yang menjembatani elit-elit politik dalam upaya mencapai kekuasaan politik dalam suatu negara yang bercirikan mandiri dalam hal finansial, memiliki platform atau haluan politik tersendiri, mengusung kepentingan-kepentingan kelompok dalam urusan politik, dan turut menyumbang political development sebagai suprastruktur politik.
Dalam rangka memahami Partai Politik sebagai salah satu komponen Infra Struktur Politik dalam negara, berikut beberapa pengertian mengenai Partai Politik, yakni :
- Carl J. Friedrich: Partai Politik adalah sekelompok manusia yang terorganisir secara stabil dengan tujuan merebut atau mempertahankan penguasan pemerintah bagi pemimpin Partainya, dan berdasarkan penguasan ini memberikan kepada anggota Partainya kemanfaatan yang bersifat ideal maupun materil.
- R.H. Soltou: Partai Politik adalah sekelompok warga negara yang sedikit banyaknya terorganisir, yang bertindak sebagai satukesatuan politik, yang dengan memanfaatkan kekuasan memilih, bertujuan menguasai pemerintah dan melaksanakan kebijakan umum mereka.
- Sigmund Neumann: Partai Politik adalah organisasi dari aktivis-aktivis Politik yang berusaha untuk menguasai kekuasan pemerintah serta merebut dukungan rakyat atas dasar persaingan melawan golongan-golongan lain yang tidak sepaham.
- Miriam Budiardjo: Partai Politik adalah suatu kelompok yang terorganisir yang anggota-anggotanya mempunyai orientasi, nilai-nilai dan cita-cita yang sama dengan tujuan memperoleh kekuasaan politik dan merebut kedudukan politik (biasanya), dengan cara konstitusional guna melaksanakan kebijakan-kebijakan mereka.
…
Partai Politik dan Kekuasaan
Berdasarkan pemahaman yang seperti itu, maka dapat disimpulkan bahwa tidak ada satupun Partai Politik didirikan tanpa tujuan yang berkaitan dengan kekuasaan pemerintahan. Dengan demikian, keberadaan partai politik dalam kehidupan ketatanegaraan modern tidak lain adalah untuk mewujudkan tatanan kehidupan kenegaraan yang lebih beradab. Hal ini disebabkan dalam sejarahnya, perebutan kekuasaan pemerintahan dalam suatu negara sering dilakukan dengan cara kekerasan dan pertumpahan darah.
Menurut UU No. 2 tahun 2008 tentang Partai Politik disebutkan bahwa Partai Politik adalah organisasi yang bersifat nasional dan dibentuk oleh sekelompok warga negara Indonesia secara sukarela atas dasar kesamaan kehendak dan cita-cita untuk memperjuangkan dan membela kepentingan politik anggota, masyarakat, bangsa dan negara, serta memelihara keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia berdasarkan Pancasila dan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945. Jika kita simak lebih mendalam pengertian ini, maka cita-cita yang pertama kali diemban oleh Partai politik tidak lain dan tidak bukan adalah memperjuangkan dan membela kepentingan politik anggota. Baru kemudian memperjuangkan masyarakat, bangsa dan negara, serta memelihara keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia.
Tujuan yang demikian inilah mengakibatkan orientasi partai politik tidak lain adalah kekuasaan.
Menurut Johan Galtung ada dua dimensi sifat kekuasaan, yaitu :
- dimensi yang mempesona, sekaligus
- dimensi yang menakutkan.
Kekuasaan mempunyai sifat dalam konteks dimensi yang mempesona karena dengan kekuasaan itu orang atau kelompok orang akan memperoleh berbagai fasilitas baik materiil maupun moril, dan sekaligus dengan kekuasaan yang dimiliki tersebut akan dapat mengendalikan chaos (kesemrawutan) di dalam masyarakat.
Sedangkan dimensi sifat yang menakutkan karena kekuasaan itu cenderung untuk disalahgunakan, menindas, manipulatif yang pada akhirnya sering menyengsarakan masyarakat baik secara individual maupun struktural.
Fenomena kekuasaan yang demikian inilah mengakibatkan Partai Politik menjadi sarana efektif bagi seseorang untuk dipergunakan sebagai “alat angkut” meraih kekuasaan. Dengan demikian, siapapun yang berada di dalam “kapal” Partai Politik selalu berlomba-lomba untuk menjadi yang terdepan dalam organisasi yang disebut Partai Politik. Sangatlah jarang dan tidak bernalar jikalau seseorang menjadi anggota Partai Politik tanpa dilandasi oleh tujuan untuk memperoleh kekuasaan. Oleh sebab itulah jika, kita menyadari hal seperti ini, maka tidak perlu terkejut apabila tokoh-tokoh elit partai politik sering berebut untuk mendapatkan posisi yang strategis di Partai Politiknya. Bahkan perebutan yang dilakukan tidak jarang menimbulkan konflik internal. Fenomena semacam inilah yang mengakibatkan tidak sedikit kader partai politik yang berganti haluan, meloncat pagar, atau pindah ke partai Politik lain alias “kutu loncat” manakala peluang untuk memperoleh kekuasaan makin lama makin kecil.
Jadi dapat disimpulkan bahwa dari pengertian partai politik yang di dalamnya mengandung tujuan merebut atau mempertahankan kekuasaan itu sendirilah yang mengakibatkan tidak sedikit kader-keder yang makin pudar peluangnya untuk memperoleh posisi kekuasaan yang cukup signifikan menjadi “kutu loncat”. Bahkan jika kader-kader ini masih merasa memiliki masa pendukung di internal partai Politik, tidak sedikit yang mendirikan Partai Politik “sempalan” dari Partai Politik yang dulu mereka ikuti. (sumber)
…
Fenomena Munculnya Partai Politik Baru
SEMANGAT para politisi membentuk partai politik (parpol) baru untuk berkompetisi dalam pemilihan umum ternyata belum juga sirna, meski persyaratan undang-undang untuk sebuah parpol semakin ketat. Selain itu, kebanyakan parpol saat ini sedang mengalami kemerosotan pesona dan ketidakpercayaan rakyat yang cukup tinggi.
Kondisi ini tentu disebabkan oleh banyak faktor. Misalnya, parpol yang sangat diharapkan dapat memberikan pendidikan politik kepada rakyat, tidak berjalan. Parpol yang dianggap sebagai tonggak terpenting dalam membangun demokrasi politik dan demokrasi ekonomi, ternyata jauh dari harapan. Akhirnya, rakyat pun semakin bertanya: sampai kapan bangsa ini akan mengalami ritual lima tahunan tersebut, sementara kualitas keberpihakan dan akuntabilitas partai-partai tidak kunjung lebih baik?
Munculnya parpol baru tersebut tentu disebabkan banyak faktor. Antara lain, karena undang-undang kepartaian masih memungkinkan. Mungkin juga, karena ada dendam politik, ambisi politik, dan kepentingan politik dari para pemimpin partai baru. Maka, tatkala dendam politik, ambisi politik dan kepentingan politik itu terus menyergap elite negeri ini, maka munculnya parpol-parpol baru akan terus terjadi, dan UU Parpol pun memungkinkannya. (sumber)
…
Wacana Partai Politik dan Kekuasaan
- Sudah lihat VCD film Schlinder’s List ?
Dulu film ini sempat dilarang di Malaysia, tapi di Indonesia VCD-nya bisa dibeli di Gunung Agung atau Gramedia. Di dalam film VCD hitam putih ini, salah satu tokohnya adalah Oscar Schlinder. Katanya “kekuasaan adalah jika anda bisa melakukan sesuatu, tapi sesuatu itu bisa anda kendalikan sehingga anda tidak jadi melakukannya, itulah yang disebut kekuasaan”.
- Ketua Umum Dewan Pimpinan Pusat (DPP) Partai Demokrat Anas Urbaningrum meminta kader Demokrat tidak menjadikan politik sebagai sarana untuk memburu kekuasaan dan melakukan korupsi. Pernyataan itu disampaikan Anas ketika berpidato seusai melantik Pengurus Dewan Pimpinan Daerah (DPD) Partai Demokrat NTT periode 2011-2016 di Kupang, Senin (16/5). Ia mengatakan, jika politik dimaknai sebagai alat untuk tindakan yang tidak terpuji tersebut, itu menandakan makna politik telah terdegradasi.
“Politik tidak boleh terus menurun, mengalami degradasi makna dan citra, apalagi hanya semata-mata untuk memburu korupsi dan kekuasaan,” katanya.
Ia mengatakan politik yang benar dan bermakna ialah digunakan untuk memperjuangkan kebajikan dan kemaslahatan rakyat. Politik juga harus diberi makna moral, diberi jubah akuntabilitas kepada rakyat. (sumber)
- Aburizal: Kekuasaan Seperti Candu
Ketua Umum Partai Golkar, Aburizal Bakrie, menyebut, kekuasaan seperti candu, sering membuat lupa diri, mabuk, kehilangan keseimbangan, menghalalkan segala cara untuk kekuasaan. Bahkan menjadikan kekuasaan sebagai tujuan, bukan lagi sebagai alat bagi pencapaian kemajuan bersama.
“Marilah kita bertekad untuk mengembalikan politik ke jalannya yang benar. Politik adalah wilayah perjuangan dan pengabdian, sebuah tempat di mana kita menggagas dan merealisasikan mimpi dan cita-cita bersama, yaitu politik bermartabat yang dipandu oleh ideologi politik, bukan bersandar pada pragmatisme politik,” kata Aburizal.
Aburizal menekankan, politik bukan sekedar kekuasaan, pemerintahan pun bukan semata kedudukan dan jabatan. Kekuasaan dan jabatan adalah amanah, tugas dan tanggung jawab, bukan sekadar kehormatan, keistimewaan, dan fasilitas. (sumber)
…
Jadi kesimpulannya adalah ……………….. *silahkan isi sendiri. hehehe
Bagaimana menurut anda?
…
Referensi :
- http://www.artikata.com/arti-369097-kekuasaan.html
- http://id.wikipedia.org/wiki/Politik
- http://id.wikipedia.org/wiki/Partai_politik
- http://indonesia-pusaka.blogspot.com/2011_05_01_archive.html
- http://nasional.jurnas.com/halaman/6/2011-05-25/170768
- http://www.mediaindonesia.com/read/2011/05/16/226536/284/1/Politik-bukan-Sarana-Buru-Kekuasaan
- http://nasional.kompas.com/read/2011/08/16/19543553/Aburizal.Kekuasaan.Seperti.Candu
Catatan :
Ini adalah tulisan ngawur yang comot sana-sini dari berbagai sumber.
Saya sudah mencantumkan link sebagai referensi atas tulisan ini
http://topengireng.wordpress.com